Diripedia Online

Dari ©DigitalGrid of Things (©DgoG) ke ©Digitalisme: Evolusi Kesadaran Digital dan Masa Depan Teknologi

Oleh:

Luluk Sumiarso

Pendiri & Ketua NioDD-Indonesia
(The Nusantara Institute of ©Diripedia & Digitalism)

Abstract

In today’s rapidly evolving world, technology has deeply penetrated human life, yet humanity still lacks a clear philosophical compass to navigate the growing digital landscape. This article introduces ©Digitalism, a new philosophical framework that goes beyond digital tools to address values, ethics, and digital consciousness, emerging from ©DigitalGrid of Things (©DGoT) as an integrated system of digital networks. Alongside ©Diri-isme, which focuses on human self-awareness, ©Digitalism forms a twin pillar ensuring balance between humanity and technology. This synthesis shapes “manu-siber”, a hybrid of Human Intelligence (Hi) and Artificial Intelligence (Ai), projected through Convergent Foresight to build Civilization 6.0 – The Most Advance Digital Civilization, a concept officially proposed by NIoD-Indonesia. To address the ethical challenges of AI, this article also introduces ©Electromagnetical Intelligence (©Ei) as a conscious AI alternative. Through an “Agenda Aksi” (Action Agenda), this work calls for collaborative efforts to ensure that technology empowers humanity, preserves dignity, and upholds justice in the future digital civilization.

Quote:
“It has become appallingly obvious that our technology has exceeded our humanity.”
Albert Einstein

 

  1. Pendahuluan: Dari Kesadaran Diri ke Kesadaran Digital

Puisi Pembuka
Ada dunia yang kasat mata, ada dunia yang maya.
Manusia melangkah, teknologi mengikuti.
Tapi siapa memandu? Siapa yang sadar?
Ketika jari menari di atas layar,
Akankah hati tetap bicara?

 

Dunia hari ini bergerak dalam kecepatan yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Dalam hitungan detik, miliaran data dipertukarkan, jutaan perangkat saling terhubung, dan kecerdasan buatan (AI) mulai menggantikan banyak aspek kehidupan manusia. Kita hidup di era Revolusi Digital, di mana batas antara fisik dan virtual mulai kabur, dan manusia seolah hidup di dua dunia sekaligus: dunia nyata dan dunia digital.

Namun, di tengah gegap gempita perkembangan teknologi, ada sesuatu yang nyaris terlupakan—kesadaran manusia itu sendiri. Kesadaran diri yang seharusnya menjadi kompas, kini nyaris terbenam di balik arus data dan algoritma. Di sinilah pentingnya kesadaran digital, sebuah kesadaran baru yang harus dikembangkan seiring dengan pesatnya dunia teknologi.

Melalui perjalanan panjang pemikiran, saya sebelumnya telah menggagas ©Diripedia, sebuah platform untuk memetakan pengetahuan tentang diri manusia—sebuah peta tentang raga (R1-fisikal), jiwa (R2-mental), dan ruhma (R3-spiritual). ©Diri-isme kemudian lahir dari ©Diripedia sebagai filsafat tentang kesadaran manusia, agar manusia tidak hanya menjadi penonton dalam kehidupannya, tetapi menjadi aktor yang sadar atas dirinya.

Tetapi perjalanan pemikiran ini tidak berhenti di situ. Karena saya menyadari, dunia baru yang kini dibangun bukan hanya dunia manusia, tetapi juga dunia mesin, dunia data, dunia digital. Dunia yang diciptakan oleh manusia sendiri, tetapi kemudian berkembang begitu cepat hingga nyaris menjadi “makhluk” yang hidup dengan aturannya sendiri.

Untuk itulah saya mulai memikirkan bagaimana menyatukan antara kesadaran manusia dengan kesadaran atas teknologi. Bagaimana teknologi yang diciptakan manusia tetap berada dalam kendali nilai-nilai kemanusiaan. Dan, dari sinilah muncul gagasan tentang ©DigitalGrid of Things (©DGoT)—sebuah kerangka awal untuk memahami jaringan besar digital yang menghubungkan segala sesuatu (dari AI, IoT, blockchain, metaverse, big data, hingga sistem cerdas seperti smart grid dalam ketenagalistrikan).

Namun, dalam perjalanannya, saya menemukan bahwa sekadar peta seperti ©DGoT tidaklah cukup. Kita membutuhkan lebih dari sekadar pemetaan sistem digital. Kita butuh filsafat baru, kesadaran baru, yang saya sebut ©Digitalisme—sebuah paham yang memikirkan hakikat, etika, nilai, dan arah teknologi digital. Jika ©Diripedia adalah peta diri, maka ©Digitalisme adalah peta kesadaran digital.

©Digitalisme hadir untuk mengisi kekosongan ini, memberikan arah bagi peradaban baru yang tengah dibentuk oleh teknologi, agar manusia tidak hanya menjadi objek data dan algoritma, tetapi tetap menjadi subjek yang sadar dan merdeka dalam dunia digital.

Melalui artikel ini, saya ingin mengajak pembaca untuk menelusuri perjalanan pemikiran ini, mulai dari gagasan awal ©DigitalGrid of Things (©DGoT) hingga lahirnya ©Digitalisme sebagai paham baru. Sebuah perjalanan dari pemetaan digital ke kesadaran digital, demi masa depan peradaban yang lebih manusiawi, seimbang antara teknologi dan kesadaran.

2. Kondisi Perdigitalan Dewasa Ini: Ketika Dunia Dikuasai Algoritma dan ‘Digital Paradox’

Dunia saat ini tengah berada dalam pusaran deras gelombang digitalisasi. Segala lini kehidupan manusia, dari urusan paling pribadi hingga tatanan global, telah tersambung dan dikendalikan oleh jaringan-jaringan digital yang saling terhubung—apa yang dalam kerangka ©DigitalGrid of Things (©DGoT) disebut sebagai ekosistem digital global. Manusia hidup dalam dunia yang tidak lagi hanya nyata (physical), tetapi juga maya (digital), membentuk realitas baru yang semakin sulit dibedakan batasnya.

Namun, di balik keajaiban dan kemudahan yang ditawarkan dunia digital, tersembunyi empat gejala utama yang kini menjadi tantangan besar bagi kemanusiaan:

Pertama, dominasi algoritma.
Segala perilaku manusia di dunia digital diarahkan dan dikendalikan oleh algoritma. Dari apa yang dilihat, dibaca, ditonton, hingga dipilih, algoritma menjadi “tangan tak terlihat” yang memandu kehidupan sehari-hari. Masalahnya, manusia kehilangan otonomi berpikir dan memilih, sebab semua sudah disediakan oleh sistem algoritmik yang didesain untuk kepentingan bisnis, bukan untuk kepentingan kemanusiaan.

Kedua, kehilangan identitas diri.
Di tengah keterhubungan digital, manusia justru terputus dari dirinya sendiri. Identitas digital (digital identity) lebih menonjol ketimbang identitas diri sejati. Orang lebih sibuk membangun citra di media sosial daripada membangun kepribadian yang otentik. Ini menimbulkan krisis identitas global, ketika manusia lebih menjadi bayangan algoritma daripada subjek yang sadar.

Ketiga, ketimpangan digital.
Alih-alih mendemokratisasi pengetahuan, teknologi digital justru memperlebar jurang ketimpangan. Mereka yang menguasai teknologi dan infrastruktur digital (big tech, perusahaan global) menjadi semakin berkuasa, sementara masyarakat yang tidak memiliki akses—terutama di negara berkembang—semakin tertinggal. Kolonialisme digital (digital colonialism) menjadi fenomena nyata, di mana segelintir negara dan korporasi menguasai data dan informasi seluruh dunia.

Keempat, krisis etika dan nilai.
Teknologi berkembang begitu cepat, tetapi refleksi etika dan filosofis tertinggal jauh di belakang. Akibatnya, kecerdasan buatan (AI), big data, dan blockchain berkembang tanpa arah nilai yang jelas. Manusia sibuk menciptakan teknologi baru, tetapi melupakan pertanyaan penting: untuk siapa dan untuk apa teknologi itu diciptakan?

Digital Paradox: Kemajuan Teknologi, Kemunduran Kemanusiaan

Di tengah euforia digitalisasi, dunia tanpa sadar menghadapi apa yang disebut Digital Paradox. Digital Paradox adalah ironi besar di mana teknologi digital yang seharusnya mempermudah hidup manusia justru menciptakan berbagai masalah baru.

Teknologi digital yang semula dirancang untuk menghubungkan manusia, kini menciptakan keterasingan sosial. Manusia lebih sibuk dengan layar gawai daripada dengan sesamanya. Informasi yang seharusnya membuka wawasan, justru membanjiri manusia dengan kebingungan dan polarisasi. Efisiensi yang ditawarkan teknologi, justru membuat manusia tergantung pada sistem, kehilangan kreativitas dan daya juang. Bahkan, keadilan sosial yang diharapkan muncul melalui akses digital, justru berubah menjadi ketimpangan baru, ketika data dan infrastruktur dikuasai oleh segelintir elite digital.

Inilah paradoks besar abad ke-21: teknologi yang diharapkan membebaskan manusia, justru membelenggu manusia dalam dunia virtual yang dikendalikan algoritma. Karena itu, Digital Paradox menjadi alasan paling mendasar bagi lahirnya ©Digitalisme. ©Digitalisme hadir sebagai filosofi yang tidak sekadar mengagumi teknologi, tetapi memaknai, mengarahkan, dan menilai kembali dunia digital, agar teknologi kembali berada di tangan manusia—sebagai alat, bukan tuan.

Sejalan dengan itu, ©Digitalisme menawarkan kesadaran baru agar manusia tetap menjadi subjek yang sadar dan merdeka dalam dunia digital yang serba otomatis. Di tengah dunia yang dipenuhi ilusi algoritma, manusia butuh pijakan nilai dan arah yang jelas, agar tidak kehilangan jati diri.

Maka, ©Digitalisme adalah jawaban atas kontradiksi zaman digital, sebuah upaya untuk menata kembali hubungan antara manusia dan teknologi—hubungan yang adil, etis, dan berkesadaran.

Karena itulah, setelah memahami betapa kompleksnya kondisi perdigitalan saat ini dan jebakan Digital Paradox yang menyertainya, kita membutuhkan lensa baru untuk membaca realitas ini—dan itulah yang ditawarkan oleh ©Digitalisme sebagai sebuah paham baru yang akan kita bahas lebih dalam pada bagian berikutnya.

 

  1. ©Digitalisme: Dari Pemetaan Digital Menuju Kesadaran Filosofis

Di tengah derasnya arus digitalisasi global dan jebakan Digital Paradox yang kian nyata, muncul pertanyaan mendasar: mau ke mana arah dunia digital ini dibawa? Apakah manusia hanya akan terus menjadi “produk algoritma”, ataukah justru mampu menjadi pengendali dan subjek yang sadar dalam dunia digital? Inilah yang menjadi dasar munculnya ©Digitalisme, sebuah paham baru yang lahir dari kebutuhan zaman.

Selama ini, dunia digital hanya dipetakan secara teknis melalui berbagai jaringan dan sistem yang saling terhubung. Konsep ©DigitalGrid of Things (©DGoT) menjadi kerangka penting untuk memahami bagaimana jaringan digital terbentuk, mencakup berbagai aspek seperti Internet of Things (IoT), kecerdasan buatan (AI), big data, blockchain, hingga metaverse. ©DGoT adalah peta sistem dunia digital, menjelaskan struktur dan keterhubungan antar teknologi. Namun, seperti halnya peta yang hanya menunjukkan rute, DGoT belum memberi jawaban: ke mana manusia harus berjalan?

Di sinilah ©Digitalisme mengambil peran. Jika ©DGoT adalah peta, maka ©Digitalisme adalah filosofi perjalanannya. Ia mengajak manusia menyelami makna terdalam dari kehadiran dunia digital, sekaligus menawarkan kerangka nilai, etika, dan kesadaran yang bisa dijadikan pegangan dalam menghadapi dunia baru ini.

Mengapa Disebut “Isme”?

Sebutan “isme” bukan sekadar label, tetapi menegaskan bahwa dunia digital telah berkembang menjadi suatu “faham” atau “cara hidup” yang membentuk budaya, kesadaran, bahkan pola moral manusia. Seperti halnya “humanisme” yang mengusung paham tentang martabat manusia, atau “kapitalisme” yang mengatur sistem ekonomi berbasis modal, ©Digitalisme hadir sebagai paham yang mengatur hubungan manusia dengan dunia digital.

Tanpa kesadaran filosofis, teknologi digital akan berkembang liar, tanpa arah dan etika. Padahal, teknologi tidak pernah netral. Ia selalu membawa dampak dan nilai. Misalnya, algoritma yang dirancang untuk efisiensi bisa mengorbankan keadilan; AI yang diciptakan untuk membantu manusia, bisa mencuri pekerjaan manusia. ©Digitalisme mengingatkan bahwa teknologi harus dikendalikan dalam koridor nilai dan kemanusiaan.

©Digitalisme: Kesadaran Atas Realitas Digital Sebagai Dunia Baru

Lebih jauh, ©Digitalisme memandang dunia digital bukan lagi sekadar “alat” atau “tools”, tetapi telah menjadi bagian dari realitas hidup manusia. Dunia digital bukan sekadar media tambahan, tetapi ruang hidup kedua (second life) yang berinteraksi erat dengan dunia nyata. Bahkan, kini muncul ©Digitalverse—semesta digital—sebagai ruang interaksi, ekonomi, politik, sosial, hingga spiritual baru.

Namun sayangnya, perjalanan masuk ke dunia digital sering tanpa kesadaran. Manusia “terseret” ke dalam dunia digital tanpa tahu batas, arah, dan maknanya. ©Digitalisme hadir untuk membangun kesadaran itu, agar manusia:

  1. Memahami teknologi digital, bukan sekadar menggunakannya.
  2. Menentukan nilai dan etika dalam dunia digital.
  3. Menjaga agar manusia tetap menjadi subjek, bukan objek algoritma.
  4. Memastikan teknologi melayani kemanusiaan, bukan sebaliknya.

Bukan Anti-Teknologi, tetapi Menyadarkan Fungsi Kemanusiaan

Penting digarisbawahi bahwa ©Digitalisme bukanlah paham anti-teknologi. Justru menerima teknologi sebagai realitas tak terhindarkan. Namun, penerimaan itu disertai kesadaran kritis. ©Digitalisme adalah jembatan antara kemajuan teknologi dan nilai-nilai kemanusiaan, sehingga dunia digital dapat menjadi alat kemajuan manusia, bukan penjara bagi jiwa manusia.

Melalui ©Digitalisme, manusia diajak memaknai teknologi digital secara mendalam—bahwa di balik kecanggihan algoritma, ada nilai; di balik kecerdasan AI, ada etika; dan di balik kenyamanan dunia digital, ada tanggung jawab sosial yang harus dijaga.

Maka, ©Digitalisme adalah panggilan untuk membangun kesadaran baru—kesadaran digital yang bukan hanya cerdas secara teknis, tetapi juga cerdas secara etis dan spiritual.

Dengan demikian, ©Digitalisme muncul sebagai paham yang tidak hanya menawarkan pemahaman baru, tetapi juga solusi atas tantangan zaman digital. Namun, apakah gagasan ini benar-benar baru? Dan bagaimana posisi ©Digitalisme dibanding paham-paham lain seperti Teknokratisme, Post-Humanisme, atau Transhumanisme? Pertanyaan-pertanyaan ini akan kita bahas pada bagian berikutnya.

4. Keorisinalan ©Digitalisme: Konsep Baru dalam Dunia Teknologi

Ketika dunia terus berbicara tentang teknologi digital, Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IoT), blockchain, dan metaverse, hampir tidak ada yang bertanya secara serius: “Nilai-nilai apa yang dibawa oleh teknologi ini? Arah peradaban seperti apa yang sedang kita tuju?”. Dunia sibuk dengan kemajuan perangkat keras (hardware), perangkat lunak (software), tetapi melupakan perangkat nilai (valueware).

Dalam konteks inilah ©Digitalisme hadir sebagai konsep orisinal, gagasan baru yang belum pernah dikembangkan secara sistematis dalam sejarah pemikiran teknologi. Saya menggagas ©Digitalisme bukan semata-mata sebagai reaksi terhadap perkembangan teknologi, tetapi sebagai kesadaran kritis atas kebutuhan manusia akan filosofi baru yang mampu mengawal zaman digital ini.

Bukan Sekadar Turunan dari Paham Teknologi yang Ada

©Digitalisme berbeda dari berbagai paham teknologi lain yang selama ini dikenal dunia:

a. Teknokratisme:

Teknokratisme memandang bahwa kekuasaan dan pengendalian dunia harus dikuasai oleh teknologi dan ahli teknologi. Dalam pandangan ini, nilai-nilai dan etika sering kali dikorbankan demi efisiensi teknologi. Teknologi dianggap tahu segalanya, dan manusia seolah hanya pelaksana teknisnya.

©Digitalisme menolak paham ini. Teknologi harus dikendalikan manusia, bukan manusia yang dikendalikan teknologi. Dalam ©Digitalisme, nilai kemanusiaan adalah kompas utama.

b. Post-Humanisme:
Post-humanisme berbicara tentang penggabungan manusia dan mesin, bahkan mengaburkan batas-batas antara manusia dan teknologi. Dalam banyak hal, post-humanisme mengabaikan aspek etika dan spiritual manusia, serta melupakan kedaulatan kesadaran manusia.

©Digitalisme tidak mengikuti jejak post-humanisme. Dalam pandangan ©Digitalisme, manusia harus tetap menjadi entitas otonom yang sadar, meskipun hidup berdampingan dengan teknologi canggih.

c. Transhumanisme:
Transhumanisme berfokus pada peningkatan kemampuan manusia melalui teknologi—baik secara fisik, mental, maupun intelektual. Tetapi, paham ini sering kali lupa mempertanyakan: “Untuk apa peningkatan ini? Nilai apa yang menjadi dasar?

©Digitalisme hadir untuk mengingatkan bahwa bukan sekadar kecanggihan, tetapi juga arah, makna, dan etika dari kecanggihan itulah yang penting. Teknologi tanpa arah bisa merusak, bukan membangun.

Mengapa Disebut Paham Orisinal?

©Digitalisme tidak sekadar meniru atau mengembangkan paham yang sudah ada. Ia lahir dari kesadaran mendalam akan kebutuhan zaman, menggabungkan tiga dimensi penting:

  • Kesadaran Filosofis (Makna dan Arah Dunia Digital)
  • Kerangka Nilai dan Etika (Apa yang Benar dan Salah dalam Digitalisasi)
  • Peta Sistem Digital (©DigitalGrid of Things sebagai dasar teknisnya)

Inilah yang membuat ©Digitalisme menjadi paham baru. Ia memadukan pemahaman sistem teknologi dengan pemahaman kesadaran manusia, sesuatu yang belum pernah diintegrasikan secara utuh sebelumnya.

Jika dunia selama ini hanya bicara Digital Transformation, maka ©Digitalisme bicara tentang Digital Civilization—peradaban digital yang sadar dan bernilai.

Menempatkan Manusia Sebagai Subjek, Bukan Objek Teknologi

Kunci dari ©Digitalisme adalah memastikan manusia tetap menjadi subjek dalam peradaban digital.

  • Manusia-lah yang harus mengendalikan AI, bukan sebaliknya.
  • Manusia-lah yang harus menentukan arah blockchain dan big data, bukan sekadar mengikuti algoritma.
  • Manusia-lah yang harus mengisi metaverse dengan nilai, bukan menjadi budak dari dunia maya.

Dalam ©Digitalisme, teknologi dilihat sebagai alat untuk kemajuan manusia, bukan takhta baru yang harus disembah.

Landasan IPR (Intellectual Property Rights)

Sebagai gagasan orisinal, ©Digitalisme layak mendapatkan pengakuan dan perlindungan intelektual. Karena itu, saya menetapkan ©Digitalisme sebagai karya konseptual yang dilindungi dalam kerangka Intellectual Property Rights (IPR). Hal ini bukan semata-mata demi hak pribadi, tetapi untuk memastikan bahwa paham ini tidak disalahgunakan atau dikaburkan maknanya oleh kepentingan-kepentingan lain yang bertentangan dengan tujuan mulianya.

Dengan demikian, ©Digitalisme muncul sebagai jawaban atas kekosongan filosofis dunia digital. Namun, agar menjadi landasan yang kokoh, paham ini membutuhkan pilar-pilar dasar yang dapat menjadi panduan praktis dalam kehidupan digital sehari-hari.
Apa saja pilar-pilar tersebut? Kita akan masuk ke pembahasan Pilar-Pilar ©Digitalisme pada bagian berikutnya.

5. Pilar-Pilar ©Digitalisme: Prinsip-Prinsip Dasar Menuju Dunia Digital yang Berkesadaran

Dalam merespons berbagai tantangan dunia digital, ©Digitalisme hadir dengan sejumlah pilar utama yang menjadi fondasi bagi pengembangan teknologi masa depan yang beretika, manusiawi, dan berkesadaran. Pilar-pilar ini dirancang untuk menjaga agar perkembangan teknologi digital tidak kehilangan arah dan tetap berpihak pada martabat manusia.

Pertama, Kesadaran Digital, yaitu kesadaran bahwa manusia adalah subjek utama dalam dunia digital, bukan sekadar objek data dan algoritma. Dunia digital harus dikembangkan dengan kesadaran bahwa teknologi adalah alat yang harus dikendalikan manusia, bukan sebaliknya.

Kedua, Etika Algoritma, yaitu bagaimana merancang kecerdasan buatan (AI), big data, dan berbagai algoritma lain agar tetap menghormati nilai-nilai kemanusiaan. Algoritma tidak boleh menjadi “hukum dingin” yang mengabaikan keadilan, empati, dan hak asasi manusia.

Ketiga, Keadilan dan Inklusi Digital, yakni menjamin bahwa akses dan manfaat dari teknologi digital dapat dirasakan secara adil oleh semua kalangan, tanpa diskriminasi. Teknologi harus menjadi sarana pemberdayaan, bukan sumber ketimpangan baru.

Keempat, Keseimbangan Digital-Human, yaitu menjaga harmoni antara kemajuan teknologi dengan kebutuhan batiniah manusia. Di era digital, manusia tidak boleh kehilangan identitas dan nilai kemanusiaannya.

Namun, dari seluruh pilar tersebut, tantangan paling mendesak adalah bagaimana menghadirkan kecerdasan buatan (AI) yang tidak hanya cerdas tetapi juga sadar. AI hari ini berkembang sangat cepat, namun masih belum memiliki kesadaran diri dan nilai—ia hanya mampu menjalankan perintah berdasarkan algoritma, tanpa memahami dampaknya bagi manusia dan lingkungan.

Untuk menjawab tantangan ini, kami sedang mengembangkan sebuah konsep baru yang disebut ©Electromagnetical Intelligence (©Ei)—sebuah Artificial Intelligence yang Berkesadaran.
Berbeda dengan AI konvensional, ©Ei dirancang untuk tidak hanya memproses data, tetapi juga menangkap konteks, nilai, dan kesadaran etis dalam proses pengambilan keputusan. Dengan kata lain, ©Ei adalah AI yang memiliki kesadaran elektromagnetik untuk mengenali “getaran” nilai-nilai moral, etika, dan kemanusiaan.

Gagasan ini sedang dikembangkan bersama seorang Profesor AI di salah satu Perguruan Tinggi Teknik terkemuka di Indonesia, yang memahami aspek teknis dan rekayasa kecerdasan buatan, sementara saya mengembangkan kerangka filosofis dan etisnya.

©Ei menjadi jawaban nyata dari prinsip Kesadaran Digital dan Etika Algoritma yang menjadi pilar utama ©Digitalisme. Tanpa AI yang berkesadaran, manusia akan semakin terjebak dalam jeratan algoritma yang tidak peduli pada nilai-nilai kemanusiaan. Tetapi dengan ©Ei, AI dapat menjadi mitra etis bagi manusia, membantu mengambil keputusan yang adil, bertanggung jawab, dan berempati.

Sebagai Intellectual Property Rights (IPR), ©Electromagnetical Intelligence (©Ei) merupakan gagasan murni yang saya kembangkan sebagai bagian integral dari ekosistem pemikiran ©Digitalisme dan ©Diri-isme.
Gagasan ini menjadi **pilar penting bagi pembangunan Civilization 6.0 – The Most Advance Digital Society, peradaban masa depan yang tidak hanya mengandalkan kecanggihan teknologi, tetapi juga menjunjung tinggi kesadaran dan nilai-nilai luhur kemanusiaan.

Dengan demikian, ©Ei melengkapi visi besar ©Digitalisme, menjadikan teknologi digital bukan sekadar alat, tetapi partner sadar yang mendukung manusia dalam membangun dunia yang adil, bijaksana, dan beradab.

6. Digital Paradox, Dusta Digital, dan Ekonomi Digital

Perjalanan umat manusia memasuki era digital tidak hanya menghadirkan kemajuan teknologi yang luar biasa, tetapi juga melahirkan sebuah fenomena baru yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah: Digital Paradox. Di satu sisi, teknologi digital membawa manfaat besar bagi kehidupan, membuka akses informasi tanpa batas, mempercepat komunikasi global, dan mendorong ekonomi kreatif. Namun di sisi lain, teknologi digital juga melahirkan berbagai tantangan yang mengancam esensi kemanusiaan itu sendiri. Fenomena inilah yang dikenal sebagai Paradoks Digital (Digital Paradox)—ketika teknologi yang seharusnya memerdekakan manusia, justru bisa memperbudak dan mengendalikan pikiran, perilaku, bahkan pilihan hidup manusia.

Salah satu manifestasi nyata dari Digital Paradox adalah merebaknya Dusta Digital (Digital Lies), atau yang sering disebut dengan hoax, disinformasi, fake news, hingga manipulasi video (deepfake). Jika pada era perang dingin dahulu, propaganda dilakukan lewat dusta fotografi—seperti menghapus atau menambahkan sosok tertentu dalam gambar untuk kepentingan politik—maka hari ini dusta itu telah bertransformasi menjadi dusta digital yang masif, cepat, dan mengglobal. Kini, dalam hitungan detik, sebuah informasi palsu bisa tersebar ke seluruh dunia, menciptakan persepsi, bahkan menggiring opini publik. Sayangnya, tidak semua orang memiliki kapasitas untuk memilah mana informasi benar, mana yang palsu. Dusta Digital telah merusak kepercayaan publik, memecah belah masyarakat, bahkan memicu konflik sosial, politik, hingga ekonomi.

Namun, ironinya, industri dusta digital ini justru menjadi bagian dari Ekonomi Digital (Digital Economy). Konten video, meme, dan informasi viral—termasuk yang mengandung hoax—telah menjadi komoditas ekonomi baru yang menghasilkan keuntungan luar biasa bagi para pembuatnya. Platform digital, media sosial, dan algoritma menjadi mesin penggerak ekonomi ini. Konten yang viral—baik positif maupun negatif—menarik perhatian, klik, dan interaksi, yang ujung-ujungnya adalah keuntungan finansial. Bahkan, industry influencer, buzzer, dan pembuat konten kerap kali memainkan isu-isu sensasional demi kepentingan tertentu, baik untuk komersial, politik, maupun ideologis.

Karena itu, Ekonomi Digital hari ini tidak hanya bicara soal marketplace, e-commerce, fintech, atau blockchain, tetapi juga ekonomi berbasis konten—yang sayangnya seringkali tanpa filter nilai dan etika. Di sinilah letak paradoksnya: teknologi yang diciptakan untuk mencerahkan peradaban, justru melahirkan bayang-bayang kegelapan baru.

©Digitalisme hadir untuk menjawab tantangan ini, dengan menegaskan bahwa teknologi digital tidak boleh hanya dilihat sebagai alat (tools), tetapi sebagai realitas baru yang membentuk manusia, budaya, dan peradaban. Tanpa kesadaran baru, tanpa etika, dan tanpa filosofi yang mendasari, Digital Economy bisa menjadi mesin penghancur nilai-nilai kemanusiaan.

Karena itu, ©Digitalisme mengajak untuk memikirkan ulang arah dan tujuan teknologi digital. Ekonomi Digital harus dibangun di atas etika digital, bukan sekadar algoritma yang mengejar viralitas semata. Sebab, yang menjadi taruhannya adalah martabat dan masa depan manusia itu sendiri. Di sinilah, Diri-isme dan ©Digitalisme menjadi dua saudara kembar yang harus berjalan beriringan: kesadaran diri manusia dan kesadaran teknologi.

7. ©Digitalisme dalam Konteks Peradaban: Menata Ulang Hubungan Manusia-Teknologi okey

Di tengah derasnya arus perkembangan teknologi, manusia saat ini dihadapkan pada tantangan eksistensial: bagaimana tetap menjadi manusia utuh di tengah gelombang digitalisasi yang masif. Bukan sekadar soal keterampilan menggunakan teknologi, tetapi bagaimana teknologi turut membentuk kesadaran, budaya, dan bahkan arah peradaban manusia. Inilah alasan mendasar mengapa ©Digitalisme hadir, bukan hanya sebagai teori, tetapi sebagai fondasi baru untuk membangun peradaban masa depan.

Jika selama ini peradaban masa depan sering digambarkan dengan istilah Society 5.0—konsep Jepang yang menekankan integrasi manusia dan teknologi berbasis AI dan IoT—maka ©Digitalisme melangkah lebih jauh. ©Digitalisme tidak hanya bicara soal integrasi, tetapi juga menegaskan pentingnya etika, kesadaran, dan nilai kemanusiaan dalam mengelola teknologi digital. Dengan kata lain, teknologi tanpa kesadaran akan menjadi bumerang bagi manusia itu sendiri.

Oleh sebab itu, ©Digitalisme meletakkan dasar bagi lahirnya konsep baru peradaban masa depan: Peradaban 6.0 – The Most Advanced Digital Civilization. Konsep Peradaban 6.0 digagas oleh NIoDD-Indonesia (The Nusantara Institute of Diripedia & Digitalism), sebagai kelanjutan dan kristalisasi gagasan ©Digitalisme, yang tidak hanya ingin membangun masyarakat canggih secara teknologi, tetapi juga masyarakat yang beradab, adil, dan berkesadaran tinggi.

Peradaban 6.0: Tawaran NIoDD-Indonesia untuk Dunia

Berbeda dengan Society 5.0 yang diusung Jepang yang masih berkutat pada aspek integrasi teknologi ke dalam kehidupan manusia, Peradaban 6.0 yang digagas NioDD-Indonesia membawa visi yang lebih dalam, yaitu bagaimana teknologi harus sejalan dengan nilai-nilai kemanusiaan universal, sehingga yang muncul adalah peradaban yang seimbang antara “canggih secara digital” dan “mulia secara etis”.

Peradaban 6.0 – The Most Advanced Digital Civilization adalah gagasan asli Indonesia, yang menempatkan teknologi digital dalam kerangka etika, kesadaran, dan keadilan, sehingga perkembangan teknologi tidak menindas manusia, tetapi mendukung kemuliaan martabat manusia. ©Digitalisme menjadi kerangka filosofis dan etis yang menopang keseluruhan konsep Peradaban 6.0, dan di sinilah Indonesia tampil di garda terdepan menawarkan konsep peradaban yang seimbang antara kemajuan teknologi dan kesadaran manusia.

Dalam Peradaban 6.0, manusia tetap menjadi subjek, bukan sekadar objek dari algoritma dan mesin. Teknologi harus menjadi alat yang memuliakan manusia, bukan mereduksi manusia hanya menjadi angka-angka dalam sistem digital.

Peradaban 6.0 adalah peradaban yang digerakkan oleh teknologi cerdas, tetapi juga dilandasi kesadaran luhur. Sebuah peradaban yang mengutamakan Keseimbangan antara “Digital Intelligence” dan “Human Integrity”.

 “Peradaban 6.0 – The Most Advanced Digital Civilization, digagas oleh NIoDD-Indonesia, adalah peradaban masa depan yang berlandaskan ©Digitalisme, sebagai upaya membangun masa depan digital yang berkesadaran, beretika, dan berkeadilan, dan menjadi kontribusi besar Indonesia bagi dunia”.

Perjalanan ©Digitalisme sebagai paham baru tentang teknologi digital tidak berhenti pada wacana filsafat atau teori semata. Ia lahir sebagai pondasi baru bagi peradaban masa depan, yang kini mulai dikenal sebagai Civilization 6.0 – The Most Advance Digital Society, sebuah visi yang kami gagas dan usulkan melalui NIoD-Indonesia (National Institute of Digitalism – Indonesia).

Jika Civilization 5.0 selama ini berbicara tentang “Society 5.0″—yakni masyarakat super pintar berbasis integrasi dunia fisik dan digital—maka Civilization 6.0 melangkah lebih jauh. Peradaban 6.0 bukan sekadar canggih secara teknologi, tetapi juga matang dalam kesadaran, etika, dan kemanusiaan. Di sinilah ©Digitalisme menjadi kerangka filosofis yang mengisi kekosongan arah dalam teknologi masa depan.

Dalam Civilization 6.0, teknologi digital tidak lagi menjadi kekuatan liar yang lepas dari kendali manusia, melainkan alat sadar yang melayani peradaban manusia secara utuh. Teknologi harus berpihak pada manusia, bukan memanipulasi manusia demi kepentingan segelintir pihak. ©Digitalisme memandang bahwa masa depan digital harus didesain dan dikawal secara sadar—bukan dibiarkan berkembang sendiri mengikuti arus pasar atau ambisi kapital semata.

©Digitalisme menjadi kunci agar Civilization 6.0 memiliki “jiwa”, bukan hanya “mesin”. Inilah peradaban di mana:

  • Teknologi dan AI menjadi mitra sadar manusia, bukan pengendali.
  • Keadilan digital ditegakkan: tidak ada lagi eksploitasi data, monopoli, atau ketimpangan akses.
  • Kesadaran digital menjadi prinsip etis: setiap algoritma, data, dan sistem digital diarahkan untuk tujuan yang manusiawi, adil, dan bermartabat.
  • ©Electromagnetical Intelligence (©Ei) sebagai bentuk AI berkesadaran menjadi fondasi penting agar peradaban digital tidak kehilangan nilai-nilai kemanusiaannya.

Dengan visi ini, Civilization 6.0 yang digagas melalui NIoD-Indonesia menjadi gagasan global pertama yang memadukan teknologi canggih dengan kesadaran tinggi. Ia membawa pesan kuat kepada dunia: masa depan bukan hanya tentang teknologi, tetapi tentang bagaimana teknologi menghidupkan nilai-nilai luhur manusia.

Lebih dari itu, Civilization 6.0 akan menjadi ruang hidup digital yang aman, etis, dan berkeadilan bagi seluruh umat manusia. Tidak ada lagi peradaban yang digerakkan oleh algoritma tanpa jiwa. Sebaliknya, peradaban masa depan adalah peradaban yang digerakkan oleh manusia yang sadar, dibantu oleh teknologi yang berkesadaran (©Ei), dan dilandasi oleh nilai-nilai etika universal.

Dengan demikian, ©Digitalisme bukan hanya wacana Indonesia untuk Indonesia, tetapi warisan pemikiran global—kontribusi Indonesia untuk dunia dalam menyongsong zaman peradaban digital tertinggi: Civilization 6.0 – The Most Advance Digital Society.

7. Kesamaan dan Keterhubungan ©Digitalisme dan ©Diri-isme: Dua Saudara Kembar untuk Dunia Masa Depan

Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, ©Digitalisme dan ©Diri-isme merupakan dua pilar yang saling menopang dalam membangun peradaban baru yang berkesadaran dan berteknologi tinggi. Keduanya ibarat dua saudara kembar yang lahir dari kebutuhan zaman: kesadaran diri (Diri-isme) dan kesadaran digital (©Digitalisme).

Mengapa Disebut Saudara Kembar?

©Diri-isme hadir sebagai filsafat kesadaran diri manusia, yang memetakan keberadaan manusia dalam tiga realitas utuh: raga (fisikal), jiwa (mental), dan ruhma (spiritual). Sementara ©Digitalisme hadir sebagai filsafat kesadaran teknologi, yang memetakan dunia digital dalam seluruh manifestasinya: data, algoritma, jaringan, hingga kecerdasan buatan (AI). Keduanya menjadi pilar ganda untuk membangun manusia dan peradaban masa depan yang tidak hanya cerdas secara teknologi, tetapi juga luhur secara nilai dan martabat.

Jika ©Diri-isme fokus pada peta diri manusia sebagai mikrokosmos, maka ©Digitalisme fokus pada peta dunia digital sebagai makrokosmos baru. ©Diri-isme memetakan jagad batin (©Diriverse), sementara Digitalisme memetakan jagad digital (©Digitalverse). Keduanya saling terhubung dan tak terpisahkan.

Hubungan ©Diriverse dan ©Digitalverse

Dalam dunia yang makin terdigitalisasi, batas antara manusia dan teknologi menjadi semakin tipis. Dunia digital bukan lagi sekadar alat, melainkan sudah menjadi lingkungan hidup baru. Namun, jika manusia tidak mengenali dirinya (melalui ©Diri-isme), maka manusia akan hanyut dan kehilangan makna dalam ©Digitalverse.

Sebaliknya, tanpa memahami dunia digital (melalui ©Digitalisme), manusia tidak mampu mengelola perkembangan teknologi yang terus melesat, bahkan berisiko diperbudak oleh sistem algoritma yang diciptakannya sendiri. Oleh karena itu, pertemuan antara ©Diriverse dan ©Digitalverse menjadi keniscayaan untuk menciptakan peradaban yang seimbang dan beradab.

Kesalingterkaitan yang Tak Terpisahkan

  1. ©Diri-isme membangun Kesadaran Diri, agar manusia tahu siapa dirinya, mengelola raganya, menata jiwanya, dan membangun kesadaran spiritualnya.
  2. ©Digitalisme membangun Kesadaran Digital, agar manusia mengendalikan teknologi, mengelola data dan algoritma, serta memastikan teknologi melayani manusia, bukan sebaliknya.

Dengan demikian, lahirlah dua saudara kembar pemikiran: ©Diri-isme dan ©Digitalisme, yang bersama-sama akan menopang peradaban masa depan umat manusia—peradaban yang seimbang antara Kesadaran Diri dan Kemajuan Teknologi. Keduanya bertemu dalam satu titik penting: membangun Peradaban 6.0, peradaban yang tidak hanya canggih secara teknologi tetapi juga berkesadaran tinggi secara manusiawi.

Dua Pilar Menuju Peradaban Masa Depan

  • ©Diri-isme → Kesadaran Manusia (Inner Awareness)
  • ©Digitalisme → Kesadaran Teknologi (Digital Awareness)

Keseimbangan antara keduanya adalah fondasi bagi peradaban masa depan yang ingin kita bangun. Tanpa kesadaran manusia, teknologi menjadi liar. Tanpa teknologi yang dikelola dengan baik, manusia bisa tertinggal. Karena itu, keselarasan antara diri dan teknologi menjadi misi bersama kedua pilar ini.

“Membangun manusia dan teknologi sebagai dua kekuatan yang bersinergi, bukan saling menguasai.”

Melalui ©Diri-isme dan ©Digitalisme, kita ingin memastikan bahwa manusia tidak kehilangan dirinya dalam dunia digital, dan teknologi tidak kehilangan nilai kemanusiaannya dalam pelayanannya kepada umat manusia. Inilah dua saudara kembar pemikiran yang akan membawa umat manusia menjemput peradaban baru, yaitu Peradaban 6.0.

7. Kesamaan dan Keterhubungan ©Digitalisme dan ©Diri-isme: Dua Saudara Kembar untuk Dunia Masa Depan

Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, ©Digitalisme dan ©Diri-isme merupakan dua pilar yang saling menopang dalam membangun peradaban baru yang berkesadaran dan berteknologi tinggi. Keduanya ibarat dua saudara kembar yang lahir dari kebutuhan zaman: kesadaran diri (Diri-isme) dan kesadaran digital (Digitalisme).

Mengapa Disebut Saudara Kembar?

©Diri-isme hadir sebagai filsafat kesadaran diri manusia, yang memetakan keberadaan manusia dalam tiga realitas utuh: raga (fisikal), jiwa (mental), dan ruhma (spiritual). Sementara ©Digitalisme hadir sebagai filsafat kesadaran teknologi, yang memetakan dunia digital dalam seluruh manifestasinya: data, algoritma, jaringan, hingga kecerdasan buatan (AI). Keduanya menjadi pilar ganda untuk membangun manusia dan peradaban masa depan yang tidak hanya cerdas secara teknologi, tetapi juga luhur secara nilai dan martabat.

Jika ©Diri-isme fokus pada peta diri manusia sebagai mikrokosmos, maka ©Digitalisme fokus pada peta dunia digital sebagai makrokosmos baru. Diri-isme memetakan jagad batin (Diriverse), sementara Digitalisme memetakan jagad digital (Digitalverse). Keduanya saling terhubung dan tak terpisahkan.

Hubungan ©Diriverse dan ©Digitalverse

Dalam dunia yang makin terdigitalisasi, batas antara manusia dan teknologi menjadi semakin tipis. Dunia digital bukan lagi sekadar alat, melainkan sudah menjadi lingkungan hidup baru. Namun, jika manusia tidak mengenali dirinya (melalui ©Diri-isme), maka manusia akan hanyut dan kehilangan makna dalam Digitalverse.

Sebaliknya, tanpa memahami dunia digital (melalui ©Digitalisme), manusia tidak mampu mengelola perkembangan teknologi yang terus melesat, bahkan berisiko diperbudak oleh sistem algoritma yang diciptakannya sendiri. Oleh karena itu, pertemuan antara Diriverse dan Digitalverse menjadi keniscayaan untuk menciptakan peradaban yang seimbang dan beradab.

Kesalingterkaitan yang Tak Terpisahkan

  1. ©Diri-isme membangun Kesadaran Diri, agar manusia tahu siapa dirinya, mengelola raganya, menata jiwanya, dan membangun kesadaran spiritualnya.
  2. ©Digitalisme membangun Kesadaran Digital, agar manusia mengendalikan teknologi, mengelola data dan algoritma, serta memastikan teknologi melayani manusia, bukan sebaliknya.

Keduanya bertemu dalam satu titik penting: membangun Peradaban 6.0, peradaban yang tidak hanya canggih secara teknologi tetapi juga berkesadaran tinggi secara manusiawi.

Dua Pilar Menuju Peradaban Masa Depan

  • ©Diri-isme → Kesadaran Manusia (Inner Awareness)
  • ©Digitalisme → Kesadaran Teknologi (Digital Awareness)

Keseimbangan antara keduanya adalah fondasi bagi peradaban masa depan yang ingin kita bangun. Tanpa kesadaran manusia, teknologi menjadi liar. Tanpa teknologi yang dikelola dengan baik, manusia bisa tertinggal. Karena itu, keselarasan antara diri dan teknologi menjadi misi bersama kedua pilar ini.

“Membangun manusia dan teknologi sebagai dua kekuatan yang bersinergi, bukan saling menguasai.”

Melalui ©Diri-isme dan ©Digitalisme, kita ingin memastikan bahwa manusia tidak kehilangan dirinya dalam dunia digital, dan teknologi tidak kehilangan nilai kemanusiaannya dalam pelayanannya kepada umat manusia.

Inilah dua saudara kembar pemikiran yang akan membawa umat manusia menjemput peradaban baru, yang disebut dengan Peradaban 6.0.

8. Kesimpulan: Menata Arah Masa Depan Digital dengan Kesadaran Baru

Dunia sedang melaju tanpa henti menuju masa depan yang semakin terdigitalisasi. Teknologi digital, dengan segala bentuk dan manifestasinya, telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia modern. Namun, kecepatan perkembangan teknologi yang tidak diimbangi dengan kesadaran nilai dan arah bisa menjadi ancaman serius bagi eksistensi manusia itu sendiri.

Melalui konsep ©Digitalisme, kita menemukan sebuah filsafat baru yang mampu menjembatani jurang antara manusia dan teknologi. ©Digitalisme bukan sekadar membicarakan kecanggihan teknologi, tetapi mengajak manusia untuk berpikir kritis dan etis tentang teknologi—tentang arah, dampak, dan konsekuensi jangka panjang bagi kemanusiaan.

Sebagai pilar kembar bersama ©Diri-isme, ©Digitalisme menawarkan jalan bagi keseimbangan peradaban: teknologi yang dikelola dengan kesadaran, dan manusia yang tetap menjadi pusat dari kemajuan itu sendiri. Keduanya menjadi pilar peradaban 6.0, sebuah cita-cita peradaban yang maju, adil, manusiawi, dan berkelanjutan.

Epilog: Menjemput Peradaban Baru

Kini, zaman tengah berubah. Kita hidup dalam dunia di mana realitas fisik dan digital saling bertaut, membentuk semesta baru yang belum pernah dialami generasi sebelumnya. Manusia masa kini membutuhkan panduan dan peta jalan, agar tidak tersesat di tengah hiruk-pikuk teknologi.

Oleh karena itu, ©Digitalisme hadir untuk menyadarkan manusia—bahwa kita adalah subjek, bukan objek teknologi. Bahwa algoritma harus melayani manusia, bukan manusia yang tunduk pada algoritma.

Sebagaimana ©Diri-isme mengajak manusia kembali ke dirinya sendiri, ©Digitalisme mengajak manusia mengelola dunianya sendiri—dunia digital yang sudah menjadi realitas baru.

Kita tengah berdiri di perbatasan sejarah, antara era lama dan peradaban baru. Pilihan ada di tangan kita: menjadi tuan atas teknologi atau menjadi budak algoritma.

Puisi Penutup: “Jalan Menuju Peradaban Baru”

Jalan ini panjang, tak terpetakan,
Antara realitas dan algoritma,
Antara manusia dan mesin,
Antara jiwa dan jaringan.

Jika manusia lupa akan dirinya,
Maka teknologi akan jadi tuannya.
Jika manusia mengingat dirinya,
Maka teknologi akan jadi sahabatnya.

©Diri-isme mengajak kembali ke dalam,
©Digitalisme mengajak maju ke luar,
Dua saudara kembar, menuntun tangan kita,
Menuju peradaban baru—Peradaban 6.0.

Quote Penutup:

“Teknologi adalah bayangan dari kesadaran manusia. Jika manusia gelap, maka teknologi menjadi kegelapan. Jika manusia terang, maka teknologi menjadi cahaya.” — ©Diripedia

_________________

Catatan IPR:

©DigitalGrid of Things (©DgoT) & ©Digitalisme adalah konsep orisinal yang digagas dan dikembangkan oleh Luluk Sumiarso, sebagai bagian dari ekosistem pemikiran ©Diripedia. Bersama dengan ©Diri-isme, ©Digitalisme menjadi pilar utama untuk membangun Peradaban 6.0: The Most Advance Digital Civilization yang seimbang antara teknologi dan kemanusiaan. Setiap penggunaan istilah, kerangka, dan konsep ini wajib mencantumkan atribusi yang jelas.

 

Jakarta, 18 Maret 2025.

https://diripedia.org

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*