Diripedia Online

Dalam Rangka Menyambut Bulan Ramadhan : Memahami dan Memaknai Ceramah Guru Syaiful Karim berjudul ‘Puasa atau Shaum?’ dalam Perspektif ©Diripedia/ ©Diripedia+

Oleh:
Luluk Sumiarso
Pendiri & Ketua NioD-Indonesia
(The Nusantara Instititute of ©Diripedia)

Abstract:
This article explores the spiritual depth of fasting (puasa) and shaum as presented in Guru Syaiful Karim’s lecture titled “Puasa or Shaum?” from the perspective of ©Diripedia/Diripedia+. Guru Syaiful Karim redefines fasting not merely as abstaining from food and drink but as a transformative practice aimed at reaching higher levels of consciousness and spiritual awareness. The lecture delves into the origin of the word “puasa” from the Pali term Upavasa, signifying an effort to dwell in a higher state of awareness, and explores shaum as a path to opening the heart and connecting more profoundly with God. Through the lens of ©Diripedia/Diripedia+, fasting is seen as an integral process that connects the physical, mental, and spiritual dimensions of the self, guiding individuals towards self-realization and closeness to the divine. The article emphasizes that the true purpose of fasting and shaum goes beyond physical abstinence, inviting a deeper spiritual awakening and alignment with one’s true self.

• Puisi Pembuka:
Puasa bukan hanya menahan lapar,
Namun mendalamkan jiwa, mencapai puncak sadar,
Shaum membawa manusia lebih dekat dengan Tuhan,
Menyaksikan cahaya, pada diri yang sejati.

• Quote:
“Kesadaran diri adalah perjalanan spiritual yang mengungkap hakikat dari setiap tindakan kita, termasuk puasa yang tidak hanya menahan tubuh, tetapi mengangkat jiwa.”— Guru Syaiful Karim, dalam ‘Puasa atau Shaum?’

1. Pendahuluan
©Diripedia adalah sebuah platform pengetahuan dan pembelajaran inklusif yang menyajikan pemahaman holistik mengenai diri manusia. ©Diripedia+ mengembangkan pemahaman ini dalam konteks kesadaran diri, spiritualitas, dan realitas kehidupan, dengan pendekatan berbasis pada teori filsafat ©Trialisme-Diripedia. Teori ini mengakui keberadaan tiga elemen diri beserta realitas-nya masing-masing:
Raga (Jasmani/Fisikalitas) – Realitas Objektif (R1)

  • Jiwa (Psikani: A. Kognitif, B. Afektif, dan C. Konatif) – Realitas Subjektif (R2)
  • Ruhma (Rohani/Spiritualitas) – Realitas Transenden (R3)

©Diripedia+ juga memperkenalkan konsep ©Trans-Realitas (TR), yang merujuk pada keberlanjutan kesadaran setelah Matinya Tubuh Fisik (©MTS), yaitu ekstensi kesadaran yang lebih tinggi, terlepas dari tubuh fisik dan aspek psikologi. TR menggambarkan refleksi kesadaran yang tidak lagi terikat pada dunia material dan psikologis, melainkan beroperasi dalam ranah yang lebih transenden, melampaui eksistensi fisik dan psikologis.

Artikel ini bertujuan untuk memahami dan memaknai pandangan Guru Syaiful Karim (GSK) dalam perspektif ©Diripedia/Diripedia+. Dalam ceramahnya, GSK mengungkapkan bahwa puasa dan shaum bukanlah sekadar tindakan menahan makan dan minum, tetapi merupakan sebuah proses spiritual dan pengendalian diri yang menyeluruh. Puasa dan shaum adalah jalan menuju kesadaran yang lebih tinggi, yang mengharmoniskan tubuh fisik, mental, dan spiritual untuk mencapai keseimbangan dalam hidup. Puasa berfungsi untuk mengarahkan individu untuk berdiam dalam kesadaran yang lebih tinggi, sementara shaum membuka jalur untuk berjumpa dengan Tuhan melalui pengendalian atas tubuh dan pikiran. “Puasa itu adalah usaha untuk berada lebih dekat dengan diri sejati, menggapai puncak kesadaran melalui pengendalian diri dan penguatan jiwa.”

Dalam perspektif ©Diripedia/Diripedia+, pemahaman tentang kesadaran jiwa ini dapat dianalisis menggunakan QRFS (Cognitive Framework of Realistic of the Self) yang kami kembangkan di NIoD-Indonesia, untuk menggali lebih dalam interaksi antara elemen-elemen dalam diri manusia, khususnya dalam kaitannya dengan fenomena kesadaran. Pendekatan ini mengarahkan kita untuk tidak hanya melihat kesadaran sebagai hasil dari aktivitas otak, tetapi juga sebagai gejala yang melibatkan berbagai level realitas manusia, yang mencakup kesadaran fisikal, mental, dan spiritual.

2. Ringkasan Ceramah Guru Syaiful Karim: ‘Puasa atau Shaum?’
Dalam ceramahnya, Guru Syaiful Karim (GSK) membahas konsep puasa (shaum) dari sudut pandang yang lebih dalam daripada sekadar menahan makan dan minum. Beliau mengangkat tema tentang pentingnya pemahaman puasa dalam konteks spiritualitas yang dapat membawa seorang individu pada kesadaran yang lebih tinggi. GSK menjelaskan bahwa puasa, yang berasal dari bahasa Pali “Upavasa”, memiliki makna yang lebih dalam. Secara harfiah, Upavasa berarti usaha untuk diam dalam kesadaran yang tinggi atau mendalam, yang lebih berfokus pada peningkatan kualitas kesadaran dan spiritualitas seseorang. Dalam hal ini, puasa bukan hanya sekadar menahan lapar dan haus, tetapi lebih pada latihan untuk mencapai kedamaian batin dan kebersihan jiwa.

GSK menegaskan bahwa puasa adalah metode untuk mencapai kesadaran tinggi, dengan cara mengendalikan tubuh fisik agar tidak mendominasi jiwa. Beliau mengaitkan proses ini dengan pengendalian diri yang melibatkan dimensi spiritual yang lebih tinggi, yang membantu seseorang untuk keluar dari dunia material dan lebih dekat dengan dimensi yang lebih transenden.

Selain itu, GSK juga mengungkapkan pemahaman mendalam tentang shaum dalam bahasa Arab, yang merujuk pada aspek yang lebih spiritual daripada sekadar penahanan fisik. Dalam sebuah hadist Qudsi, dikatakan bahwa shaum itu memiliki dua kegembiraan bagi yang melaksanakannya: pertama, kegembiraan saat berbuka, dan kedua, kegembiraan saat berjumpa dengan Tuhan. Namun, yang menarik adalah bagaimana berbuka tidak hanya dimaknai dalam konteks makanan dan minuman, tetapi lebih pada berbuka mata qolbu (hati), yaitu membuka kesadaran spiritual seseorang untuk lebih dekat dengan Tuhan. Ini menunjukkan bahwa shaum bukan hanya sekadar ritual berbuka makan, tetapi lebih kepada membuka pintu kesadaran yang lebih dalam dalam diri seorang hamba.

Melalui ceramah ini, GSK ingin menekankan bahwa puasa dan shaum bukan hanya tentang menahan hawa nafsu fisik, melainkan sarana yang lebih dalam untuk mencapai kesadaran spiritual yang lebih tinggi. Dengan kata lain, puasa dan shaum adalah latihan rohani yang membawa seseorang menuju puncak kesadaran yang lebih murni, yang akhirnya mengarah pada kedekatan dengan Tuhan dan pencapaian spiritual yang lebih dalam.

Pada dasarnya, tujuan utama dari puasa dan shaum adalah untuk meningkatkan kesadaran diri dan memperdalam hubungan dengan Tuhan. Ini adalah perjalanan spiritual yang melibatkan seluruh aspek diri—fisikalitas, psikologi, dan spiritualitas—untuk mencapai keadaan tertinggi dari pencerahan spiritual. Sehingga, puasa dan shaum lebih dari sekadar ritual atau kewajiban agama, melainkan suatu sarana untuk menyadarkan diri akan tujuan hidup yang lebih besar dan memperbaiki hubungan kita dengan diri sendiri, sesama, dan Tuhan.
Dalam perspektif ini, GSK membawa kita untuk memaknai puasa dan shaum sebagai jalan spiritual yang menghubungkan dunia material dan spiritual. Puasa adalah alat yang mendalam dalam perjalanan menuju Tuhan, yang memungkinkan seseorang untuk merasakan kedamaian dan kebersihan jiwa, serta menjadi lebih peka terhadap dimensi spiritual yang selama ini mungkin tersembunyi dalam kehidupan sehari-hari.
Secara keseluruhan, ceramah ini membuka wawasan kita tentang pentingnya kesadaran spiritual dalam setiap tindakan dan ritual yang kita jalani, dan mengingatkan kita untuk selalu kembali kepada inti dari setiap amalan spiritual, yaitu untuk lebih dekat dengan Tuhan.

3. Analisis dalam Perspektif ©Diripedia/Diripedia+
Dalam perspektif ©Diripedia/Diripedia+, hal ini difahami dan dimaknai sebagai pengendalian diri yang melibatkan ketiga elemen diri manusia (fisikalitas, psikani, dan spiritualitas), yang secara keseluruhan membentuk perjalanan kesadaran untuk mencapai tingkat pemahaman yang lebih tinggi. Berikut adalah uraian mendalam mengenai hubungan antara ketiga aspek tersebut dalam puasa dan shaum:
a. Aspek Fisikal, Mental, dan Spiritual dalam QRFS

Dalam QRFS (Cognitive Framework of Realistic of the Self), puasa dan shaum dapat dipahami sebagai interaksi antara tiga aspek diri manusia yang saling berhubungan dan mempengaruhi:

Raga (Fisikalitas): Aspek fisik terlibat dalam proses menahan diri, yang dalam konteks puasa berarti menahan kebutuhan biologis seperti makan dan minum. Pengendalian fisik ini memberikan ruang bagi tubuh untuk beregenerasi, sementara juga mengajarkan untuk tidak terikat pada keinginan materi yang sering kali mengalihkan perhatian kita dari tujuan spiritual. Puasa di sini bukan hanya pengendalian fisik, tetapi juga cara untuk mencapai keseimbangan antara tubuh dan kesadaran yang lebih tinggi.

  • Jiwa (Psikani): Aspek psikologi mencakup pengendalian pikiran (kognitif), perasaan (afektif), dan dorongan bertindak (konatif). Puasa dan shaum mengharuskan individu untuk tidak hanya menahan diri dari konsumsi materi, tetapi juga untuk mengendalikan dorongan-dorongan batin yang cenderung membawa kita pada reaksi emosional atau impulsif. Dengan mengelola pikiran dan perasaan, puasa menjadi latihan batin untuk mencapai kesadaran yang lebih tinggi, yang terfokus pada nilai-nilai spiritual.
  • Ruhma (Spiritualitas): Dimensi spiritual ini merujuk pada hubungan kita dengan Tuhan dan kesadaran yang lebih tinggi. Puasa dan shaum mengarahkan individu untuk mencapai keterhubungan dengan Tuhan melalui pengendalian diri dan penarikan diri dari dunia materi. Proses ini menciptakan ruang bagi jiwa dan tubuh untuk terhubung dengan aspek spiritual yang lebih tinggi, dan mengarah pada pemahaman yang lebih dalam tentang makna hidup dan tujuan spiritual.
    b. Hubungan Puasa dan Shaum dengan Puncak Kesadaran

Berdasarkan konsep ©Diripedia+, puasa dan shaum tidak hanya berfungsi sebagai tindakan fisik yang terbatas pada menahan makan dan minum, tetapi sebagai sarana untuk mencapai puncak kesadaran, atau keadaan transendental yang lebih tinggi. Dalam perspektif ini, puasa menjadi alat untuk menyelaraskan tubuh fisik dengan jiwa dan roh, yang pada akhirnya mengarah pada pencapaian ©Trans-Realitas (TR)—keberlanjutan kesadaran yang lebih tinggi setelah matinya tubuh fisik.

Ketika seseorang mengendalikan tubuh fisiknya melalui puasa, ia juga meningkatkan kualitas kesadaran mental dan spiritualnya. Pengendalian fisik ini memberi ruang bagi jiwa dan roh untuk berkembang, menghubungkan kesadaran individu dengan dimensi spiritual yang lebih tinggi. Dalam konteks ini, puasa dan shaum bukan hanya bertujuan untuk menahan diri dari dunia materi, tetapi untuk membuka jalan bagi kesadaran yang lebih murni dan lebih terhubung dengan Tuhan.

©Trans-Realitas (TR) juga dapat dihubungkan dengan perjalanan spiritual yang memisahkan individu dari keterikatan dunia fisik dan psikologis, membawa mereka lebih dekat kepada pemahaman spiritual yang lebih dalam. Kesadaran tinggi ini, yang melampaui dunia fisik, memberikan gambaran tentang bagaimana puasa dan shaum membawa individu untuk menembus batasan dunia materi dan menuju realitas yang lebih spiritual.

Puasa dan shaum, dalam perspektif ©Diripedia/Diripedia+, adalah pengendalian diri yang tidak hanya mencakup pengendalian tubuh fisik, tetapi juga mengarahkan pikiran, perasaan, dan dorongan kita menuju kesadaran spiritual yang lebih tinggi. Melalui proses ini, seseorang bisa mencapai puncak kesadaran, yang juga disebut ©Trans-Realitas (TR), di mana kesadaran manusia dapat melampaui batasan fisik dan material menuju dimensi spiritual yang lebih dalam.

4. Critical Thinking (Pemikiran Kritis) dalam Puasa dan Shaum: Menggali Makna dan Proses Spiritual
Menurut GSK, pemikiran kritis dalam konteks puasa dan shaum tidak hanya melibatkan pertanyaan-pertanyaan tentang apa yang dilakukan (menahan makan dan minum), tetapi juga tentang mengapa kita melakukannya, apa dampaknya bagi jiwa dan tubuh, serta bagaimana hal tersebut menyatukan aspek-aspek fisikal, mental, dan spiritual. Pemikiran kritis ini mendorong kita untuk melihat puasa dan shaum sebagai lebih dari sekadar ritual fisik, tetapi sebagai proses yang mendalam dan penuh makna yang menghubungkan manusia dengan esensi spiritual mereka.

Dalam perspektif ©Diripedia/Diripedia+, hal ini difahami dan dimaknai sebagai upaya untuk memahami puasa dan shaum dalam konteks yang lebih luas dan lebih mendalam. Penggunaan pemikiran kritis memungkinkan individu untuk menggali dan merenungkan arti puasa dan shaum, tidak hanya dalam hal pengendalian tubuh, tetapi dalam kaitannya dengan kesadaran diri dan hubungan dengan Tuhan. Ini mengajak kita untuk mempertanyakan bagaimana puasa dapat menjadi proses transformasi internal yang membawa kita menuju kesadaran yang lebih tinggi.

Pemikiran Kritis tentang Pengendalian Diri. Dalam konteks puasa, pengendalian diri bukan hanya terbatas pada menahan makan dan minum, tetapi juga menyangkut bagaimana kita mengendalikan dorongan internal lainnya, seperti emosi, pikiran, dan tindakan. Pemikiran kritis mendorong kita untuk berpikir lebih dalam tentang bagaimana praktik ini dapat mengubah pola pikir dan perilaku kita sehari-hari. Ini juga mencakup pertanyaan tentang bagaimana pengendalian diri yang dilakukan selama puasa dapat membawa perubahan positif dalam kehidupan kita, baik di dunia material maupun spiritual.

Pemikiran Kritis tentang Makna Spiritual. Puasa dan shaum bukan hanya ritual fisik yang berkaitan dengan tubuh, tetapi juga terkait erat dengan dimensi spiritual dalam diri kita. Pemikiran kritis membantu kita mengeksplorasi lebih dalam tentang hubungan kita dengan Tuhan, tentang bagaimana pengendalian tubuh dan pikiran selama puasa bisa menjadi jalan untuk mencapai kesadaran yang lebih tinggi. Dengan mempertanyakan tujuan dan makna spiritual dari shaum, kita tidak hanya menjalani ritual, tetapi juga mengalami transformasi dalam diri kita yang memperkuat hubungan dengan Tuhan dan memperdalam kesadaran diri.

Pemikiran Kritis sebagai Alat untuk Menghubungkan Dunia Fisik dan Spiritual. Dalam perspektif Diripedia+, puasa dan shaum adalah jembatan antara dunia fisik dan spiritual, dan pemikiran kritis menjadi alat untuk menjembatani keduanya. Dengan berpikir kritis, individu bisa memahami bagaimana tubuh (Raga) dan jiwa (Psikani) saling berinteraksi dengan dunia spiritual (Ruhma), dan bagaimana semua aspek ini terhubung dalam pencapaian puncak kesadaran. Pemikiran kritis membantu kita mengarahkan tindakan kita dari pengendalian fisik menuju pencapaian spiritual yang lebih tinggi, dengan melepaskan diri dari keterikatan dunia material untuk meraih kedekatan dengan Tuhan.

Pemikiran kritis dalam puasa dan shaum memungkinkan kita untuk mengeksplorasi dan memahami makna yang lebih dalam dari setiap aspek puasa—baik itu tubuh, pikiran, maupun spiritualitas. Dengan mempertanyakan dan merenungkan tujuan dari puasa, kita dapat lebih memahami bagaimana praktik ini berfungsi sebagai alat transformasi yang membawa kita menuju kesadaran yang lebih tinggi, sekaligus menghubungkan kita lebih dekat dengan Tuhan. Pemikiran kritis ini menjadikan puasa sebagai jalan untuk kesadaran yang lebih holistik dan transendental, yang melibatkan seluruh dimensi diri manusia.

5. Kesimpulan
a. Pengendalian Diri dan Keterhubungan dengan Diri Sejati
Puasa dan shaum, menurut pemahaman dalam ©Diripedia/Diripedia+, lebih dari sekadar aktivitas fisik menahan makan dan minum. Kedua praktik ini memiliki dimensi yang lebih dalam, yakni sebagai usaha untuk mengendalikan seluruh aspek diri manusia—fisikal, mental, dan spiritual—guna mencapai puncak kesadaran diri. Puasa dan shaum bukan hanya ritual yang terbatas pada pengendalian tubuh, tetapi juga sebuah perjalanan spiritual yang mengarahkan individu untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan mengenali diri sejatinya.
Dalam perspektif ©Diripedia, kesadaran diri yang lebih tinggi tercapai ketika ketiga elemen diri, yaitu Raga (Fisikalitas), Jiwa (Mentalitas: Kognitif, Afektif, dan Konatif), dan Ruhma (Spiritualitas)—dapat diselaraskan dan dipadukan. Proses puasa dan shaum membantu individu untuk menahan diri dari keinginan-keinginan duniawi yang mengganggu kesadaran, baik itu kebutuhan fisik, pikiran yang berlarut, maupun perasaan yang tidak terkendali. Dalam pengendalian diri tersebut, kita dapat membuka ruang bagi kesadaran yang lebih tinggi dan lebih dekat dengan diri sejati kita, yaitu pemahaman yang lebih dalam tentang esensi diri kita yang lebih luas daripada dunia material.
Melalui pengendalian diri yang dilakukan dalam puasa dan shaum, individu dapat merasakan kedamaian batin dan keseimbangan antara tubuh, pikiran, dan jiwa. Ini adalah bentuk hubungan spiritual yang sejati yang hanya dapat dicapai dengan kesadaran penuh terhadap diri dan kehidupan yang lebih luas. Dengan demikian, puasa dan shaum berfungsi sebagai cara untuk menyatukan ketiga dimensi realitas diri manusia dan mendekatkan individu pada pemahaman hakiki tentang diri sejati mereka.

b. Tujuan dan Manfaat dari Puasa dan Shaum
Tujuan utama dari puasa dan shaum, dalam perspektif Diripedia/Diripedia+, adalah untuk mencapai perubahan dalam kesadaran diri yang mengarah pada pencerahan spiritual. Ini bukan hanya tentang tindakan fisik menahan makan atau minum, tetapi lebih pada transformasi dalam cara kita memandang diri sendiri dan hubungan kita dengan dunia sekitar. Puasa, dengan menahan berbagai kebutuhan fisik, memberi ruang bagi kita untuk fokus pada pencapaian spiritual yang lebih tinggi, serta menyadari hakikat dari kesadaran itu sendiri.

Melalui konsep Trans-Realitas (TR), kita juga dapat memahami bahwa puasa dan shaum memiliki dampak yang lebih mendalam daripada yang terlihat secara fisik. TR mengajarkan kita bahwa meskipun tubuh fisik kita berhenti berfungsi, kesadaran tidak terhenti begitu saja. Kesadaran melanjutkan perjalanan di ranah yang lebih tinggi—dimensi spiritual yang tidak terikat oleh dunia material. Dalam konteks ini, puasa dan shaum menjadi alat untuk menumbuhkan kesadaran akan keberlanjutan jiwa dan mempertemukan kita dengan dimensi spiritual yang lebih mendalam.

Puasa dan shaum, dalam hal ini, berfungsi untuk memperkuat hubungan dengan Tuhan dan mendekatkan kita pada realitas transendental yang lebih tinggi. Melalui pengendalian fisik, pikiran, dan perasaan, kita tidak hanya membersihkan diri dari kebiasaan buruk, tetapi juga membuka jalan bagi penerimaan cahaya spiritual yang lebih besar, yang pada gilirannya membantu kita mencapai puncak kesadaran diri. Dengan demikian, tujuan dari puasa dan shaum adalah untuk mengarahkan kita pada kesadaran yang lebih murni dan lebih mendalam, yang pada akhirnya membawa kita menuju pencerahan dan pemahaman yang lebih tinggi tentang kehidupan dan eksistensi kita sebagai manusia.

Epilog
Penutup Reflektif:
Proses puasa dan shaum mengingatkan kita bahwa kesadaran bukanlah sesuatu yang terjadi begitu saja, melainkan sebuah perjalanan yang melibatkan seluruh aspek dalam diri kita—tubuh fisik, psikologi, dan spiritualitas. Dalam memahami kesadaran diri, kita harus menyadari bahwa kesadaran tidak terbatas hanya pada dimensi material atau fisik semata. Ia juga berakar pada kedalaman jiwa dan roh kita, yang lebih tinggi dan melampaui dunia yang tampak.

Puasa dan shaum bukanlah sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi merupakan alat yang membawa kita lebih dekat kepada Tuhan, lebih dekat dengan diri sejati kita, dan lebih sadar dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Dengan menahan berbagai keinginan duniawi dan memberi ruang bagi kesadaran yang lebih tinggi, kita diundang untuk merenung, untuk menghubungkan setiap tindakan kita dengan nilai-nilai spiritual yang lebih dalam.

Melalui puasa dan shaum, kita belajar untuk mengendalikan diri, untuk lebih peka terhadap suara hati, dan untuk lebih menghargai setiap detik dari kehidupan ini. Ini adalah jalan spiritual yang menuntun kita pada puncak kesadaran, di mana kita dapat melihat dunia tidak hanya dengan mata fisik, tetapi juga dengan mata hati yang lebih luas.

Puisi Penutup:
Di dalam puasa, kita berdiam diri,
Mengendalikan tubuh, jiwa, dan hati,
Kesadaran tinggi yang terhubung kepada-Nya,
Menjadi cahaya dalam kegelapan dunia.

Quote Diripedia:
“Kesadaran bukan hanya milik tubuh, ia adalah perjalanan jiwa yang menemukan Tuhan dalam setiap langkahnya.” — Diripedia+
Dengan demikian, artikel ini menyimpulkan bahwa puasa dan shaum adalah lebih dari sekadar ritual, mereka adalah jembatan spiritual yang menghubungkan kita dengan dimensi kesadaran yang lebih tinggi. Sebuah perjalanan yang membawa kita untuk lebih dekat dengan Tuhan dan lebih mengenal diri sejati.
Jakarta, 1 Maret 2025.

https://diripedia.org

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*